15 July 2009

Happy Birthday Cupcake n_n!

July 15th is the date when she came to this planet. A tiny pristine gem in milky way that is used to be called as earth. I really want to give her something special; a simple nice gift, which is cute and affordable. But I only have compassion and devotion for her. Well, I'm not trying to be romantic, I'm just trying to be honest... to her and to myself. OMLG, I miss her so much.

14 July 2009

Gorgeous Grill Galore

If delicious, healthy, and affordable are not enough to describe a perfect steak, then the name of The Grill Corner is easily one of the best keywords you can remember. First opened in December 2008, breakfast, brunch, lunch or dinner in this grill-specialized restaurant is sure to be a brand new experience for those who look for something different in their Bali gastronomy journey. Opened 24hours, their personalized menu is something special that makes this restaurant different from others.

Surprisingly creative and unique in zest, the staff at this restaurant know exactly what should be done to wow every customer. Lead by their award winning chef, The Grill Corner has moved forward from a newbie eatery into a must try legacy that Kuta has ever had. A destination unto itself, where relaxing al fresco dining meets international cuisine, the restaurant features a sleek lounge-style area at the front, a fully-stocked sunken bar at the centre, and a delightful view over the pool and garden at the backside. To entertain guests, The Grill Corner has the Acoustic Trio on Wednesday and Friday, Reggae band on Saturday, and Batak anthems on Sunday.

Managed by The Vira Bali Hotel, one of its signature foods is the succulent Sirloin Steak that's worth Rp98k. Served with rich mushroom sauce, lyonnaise potatoes, brown onion, broccoli, carrot and zucchini, plus tomato salsa at the top, I had the opportunity to taste this delectable fare a few days ago. Accompanied by Ms. Elrawati and Mr. Putu Ambara Putra, the sales manager and the F&B manager, having lunch at the restaurant was truly a once in a lifetime dining experience that was hard to forget. The stylish atmosphere at the restaurant was matched by the beautiful service, delightful meal, refreshing beverage, and of course… the friendly people.

13 December 2008

Mama, Gigi, dan Aku

Tidak terasa bahwa sudah lebih dari setengah abad gigi-gigi itu menemani mamaku. Dalam pahit, manis, asam, asin, hambar, gurih, keras, lembut, kasar, halus, dan sederetan rasa lain yang datang silih berganti sepanjang hidupnya. OMLG! Ternyata baru kusadari kuketahui semalam bahwa gigi-gigi itu sudah tak lengkap lagi. Para personilnya telah banyak yang tanggal, hingga aku bisa menyaksikan dengan jelas banyak ruang kosong yang terbuka menganga. Ruang kosong yang bernama gusi itu kini telah ditinggalkan oleh sahabat setianya untuk selamanya. Tidak ada lagi barisan putih rapi yang selalu berdiri tegak untuk menahan panas dan dingin yang kerap menerpa. Gusi-gusi itu tampak lunglai menahan senyap dan sepi. Mereka hanya bisa pasrah menyaksikan diri mereka yang sudah tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Tenggelam dalam diam sambil berharap agar gigi-gigi yang lain tetap bertahan menemani mamaku untuk menikmati indahanya dunia.

Sontak diriku kaget melihatnya. Astaga… Entah sudah berapa lama aku tidak memperhatikan gigi mamaku. Gigi yang kerap tersenyum untukku. Gigi yang selalu ada untuk kami. Sejenak aku terhanyut dalam rasa bersalah. Sebagai seorang anak seharusnya aku mengetahui setiap hal yang menimpa mamaku. Seharusnya aku tidak terlalu sibuk dengan pekerjaanku. お母さん, ごめんなさい…

12 December 2008

John Pierpont

Hari ini saya tidak ada ide untuk menulis. Tapi berhubung ini bulan Desember, saya punya sebuah cerita yang sangat menyentuh mengenai seseorang yang tidak kita kenal namun saya yakin setiap pembaca mengetahui karya besarnya. Cerita ini saya dapat dari milis Volunteer UWRF yang ada di inbox webmail saya sejak setahun lalu. Selamat membaca ^^!

John Pierpont meninggal dalam kegagalan pada tahun 1866, pada usia delapan puluh satu, ia mencapai akhir hidupnya sebagai pegawai pemerintahan di Washington, D.C., dengan serangkaian kegagalan pribadi yang panjang yang mengikis jiwanya. Semuanya berawal cukup baik. Ia lulus dari Yale, yang telah didirikan dengan bantuan kakeknya, dan dengan antusias memilih pendidikan sebagai profesinya. Ia gagal sebagai pengajar. Ia terlalu lembek kepada murid-muridnya. Maka ia pindah ke dunia hukum sebagai latihan. Ia gagal sebagai pengacara. Ia terlalu murah hati pada kliennya dan terlalu peduli pada keadilan untuk tidak peduli pada kasus-kasus yang bayarannya tinggi. Karir selanjutnya yang Ia ambil adalah menjadi pedagang tekstil. Ia gagal sebagai orang bisnis. Ia tidak bisa memberi harga yang cukup bagi barang-barangnya untuk mendapat keuntungan dan terlalu bebas memberi kredit. Sementara itu Ia telah menulis puisi, dan walaupun puisinya di publikasikan, Ia tidak mendapatkan royalti yang cukup untuk menghidupi dirinya. Ia gagal menjadi penyair. Maka ia memutuskan untuk menjadi pendeta, pergi ke sekolah teologi di Havard Divinity School, dan di tahbiskan menjadi pendeta di Gereja Hollis Street di Boston. Tapi posisinya sebagai pembuat peraturan dan penentang perbudakan membuat Ia bentrok dengan aggota jemaat yang berpengaruh dan Ia dipaksa mengundurkan diri. Ia gagal sebagai pendeta. Politik kelihatan tempat dimana Ia bisa melakukan suatu perubahan, dan Ia di nominasikan sebagai kandidat partai Abolition menjadi gubernur Massachusetts. Ia kalah. Pantang mundur, ia mencalonkan diri menjadi anggota Konggres di bawah bendera partai Fee Soil. Ia kalah. Ia gagal sebagai politisi. Perang saudara pecah, dan ia menjadi sukarelawan sebagai pendeta untuk para tentara. Pendeta dari resimen sukarelawan Massachusetts ke-22. Dua minggu kemudian ia berhenti, kaarena menemukan bahwa tugas itu terlalu menegangkan bagi kesehatannya. Ia berumur tujuh puluh enam tahun. Ia bahkan tidak sanggup menjadi pendeta bagi para tentara.

Seorang mencarikan pekerjaan yang umum di kantor belakang Departemen Keuangan di Washington, dan Ia menghabiskan lima tahun terakhir hidupnya sebagai pegawai administrasi tingkat rendah. Kerjanya di sana juga tidak terlalu bagus. Hatinya tidak ada di sana. John Pierpont Mati dalam kegagalan. Ia tidak berhasil melakukan apa yang ia ingin lakukan dan tidak berhasil menjadi seseorang yang Ia impikan. Ada sebuah batu nisan kecil yang menandai kuburannya di Mount Aubum Cemetry di Cambridge, Massachusetts. Kata-kata di batu granit itu berbunyi : Penyair, Pendeta, Filosof, Filanthrophis.

Setelah waktu berlalu, sekarang, orang mungkin bersikeras bahwa sebenarnya, ia tidaklah gagal. Komitmennya kepada keadilan sosial, keinginannya untuk menjadi manusia yang penuh cinta kasih, ketelibatannya secara aktif dalam hal-hal besar dijamannya dan kesetiaannya pada kekuatan pikiran manusia- semua ini bukanlah kegagalan. Dan banyak hal yang Ia pikir sebagai suatu kekalahan berubah menjadi keberhasilan. Pendidikan di bentuk ulang, proses hukum diperbaiki, hukum piutang diubah, dan di atas segalanya perbudakan dihapuskan sekali dan untuk selamanya.

Kenapa Saya menceritakan hal ini kepada anda? Ini bukan suatu cerita yang menghebokan. Banyak tokoh reformasi abad sembilan belas memiliki kehidupan yang serupa - kegagalan dan kesuksesan yang serupa. Dalam satu hal yang paling penting, John Pierpont tidaklah gagal. Setiap tahun saat Desember tiba, kita merasakan kesuksesannya. Dalam hati dan pikiran kita, kita mengingat sebuah kenangan sepanjang hidup baginya. Kenangan itu adalah sebuah lagu. Bukan mengenai Jesus atau para Malaikat atau bahkan Santa Klaus. Hanyalah sebuah lagu yang sangat sederhana mengenai kegembiraan meluncur melintasi kemuraman dan kegelapan musim dingin, di dalam sebuah kereta yang ditarik seekor kuda. Dan dengan ditemanin kawan-kawan, tertawa dan bernyanyi sepanjang jalan. Tidak lebih, tidak kurang. "Jingle Bells." John Pierpont menulis "Jinggle Bells".

Menulis sebuah lagu yang mengungkapkan kegembiraan yang sederhana, menulis sebuah lagu yang di kenal oleh tiga atau empat ratus juta orang di seluruh dunia - sebuah lagu mengenai sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan namun bisa mereka khayalkan - sebuah lagu yang kita semua, baik besar maupun kecil, bisa nyanyikan begitu nadanya dimainkan piano dan dimainkan dalam semangat kita - yah, ini bukanlah suatu kegagalan. Di suatu sore bersalju dimusim dingin yang hebat, John Pierpont menuliskan syair ini sebagai hadiah kecil untuk keluarganya, teman-temannya dan anggota jemaatnya. Dan dengan demikian meninggalkan sebuah hadiah permanent untuk Natal - hadiah terbaik - bukan hadiah dibawah pohon natal, tetapi hadiah kegembiraan yang tidak terliat dan tidak terkalahkan.

11 December 2008

Paypal ala Google

Setelah membeli YouTube, dan membuat Android, akankah Google membuat suatu produk seperti PayPal? Well, sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin bagi Google. Perusahaan No.1 yang bergerak di dalam bisnis dunia maya ini selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, lebih lengkap, dan lebih dominan dalam memanjakkan para penggunanya. Google punya adsense yang begitu sukses, gmail yang tersebar luas, dan juga blogger yang makin merajalela. Bahkan kehadiran produk barunya yakni Picasa kini sudah berhasil menggoyang hegemoni Flickr yang dimiliki oleh Yahoo. Kenyataan-kenyataan inilah yang kemudian memunculkan rasa penasaran di benak banyak onlinepreneur. Akankah Google memberikan kesempatan para penggunanya untuk memiliki rekening online seperti halnya layanan yang diberikan oleh PayPal? Mengingat semua tahu bahwa memverifikasi rekening paypal agar bisa aktif digunakan dalam bertransaksi adalah hal yang tidak mudah. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki kartu kredit. Nah, rasa-rasanya ini merupakan masukan dan sekaligus pekerjaan rumah bagi Google untuk menjadi lebih hebat lagi. Atau bahkan suatu saat nanti rekening Adsense bisa digunakan untuk transaksi online (jumlah earning yg kita miliki bisa ditransfer untuk membeli barang dan juga bisa didonasikan antar sesama adsenser)? Hhm, mungkin akan sangat menarik. Tapi.... Bagaimana menurut anda?

09 December 2008

Stunning Hosting

Do you want to own a website with your own name? Well, it’s easy. You not need to buy a domain or hosting. For those who look for a free domain 50Webs gives you the opportunity to store your website on the Internet at no cost. Its free hosting services offer sufficient resources so you can easily run a small personal website. It does not include any forced ads on your pages, which makes it a favourable and well-known hosting provider! Its free hosting plan includes an easy-to-use Control Panel with a great web-based file manager. You can also use an integrated HTML editor, which displays in real time the changes you make to your website. With 60MB disk space, unlimited bandwith, unlimited subdomains, full DNS management, POP3 server, and more!

04 December 2008

Tingkatkan traffic dengan blog yang ciamik

Memiliki tampilan [theme] blog yang unik dan indah memang sepertinya sudah menjadi kebutuhan bahkan keharusan bagi sebagian blogger. Entah itu hanya untuk sekedar memenuhi kepuasan pribadi, atau memang semata-mata dikhususkan untuk meningkatkan traffic kunjungan blog mereka. Well, apapun itu, mengganti tampilan blog yg standar (default) dengan tampilan yang keren memang akan memberikan nilai positif bagi blog kita. Selain tampil beda, akan ada banyak pengunjung yang bakal betah berlama-lama di blog anda. Bukan saja membawa new visitors dan mempertahankan unique repeaters secara global, tampilan yang ciamik juga akan meningkatkan page rank blog anda di search engine. Dan terlepas dari jenis blog yang anda miliki, entah itu blogspot ataupun wordpress, ini tentunya secara tidak langsung juga akan menaikkan revenue anda. Mau mencoba?